Showing posts with label PPIC. Show all posts
Showing posts with label PPIC. Show all posts

Monday, October 1, 2012

Reuni ex-PPIC di Bandung

Bersama Ida dan Tisna saat sarapan di Bubur Ayam Mang H. Oyo (dok: pribadi)
Selain bereuni dengan komunitas Ilmu Terbang, saya juga bereuni dengan teman-teman pelajar saat di Christchurch. Seperti biasa pada saat bertemu yang dikomentari adalah, "Des, masih sama ya,...ga berubah masih norak-norak bergembira".....hehehe...:-D

Alhamdulillah, kedatangan ke Bandung kali ini bisa makin mempererat tali silaturrahmi dengan para sahabat yang selama ini hanya terjadi via dunia maya. Kesibukan yang menyita sejak menyelesaikan perkuliahan adalah salah satu alasan menjadikan pertemuan ini terasa mengurai kembali kenangan yang ada.


Mengenang kembali masa-masa saat bersama sebagai anak perantauan di negeri orang dan menertawakan suka-duka yang ada merupakan suatu bentuk keindahan yang terjalin saat acara ini. Rasa yang sama masih ada, yaitu kekuatan kebersamaan yang terjalin bukan hanya pada saat bahagia namun yang paling utama disaat berbagai cobaan melanda.

Love you all my dear friends,...:-)

Wednesday, June 8, 2011

Berbagi Ilmu

Acara berbagi ilmu adalah salah satu program unik PPIC. Ada 3 hal yang bisa disimpulkan dari program ini:
  1. Berbagi pengalaman tentang selama perkuliahan termasuk tips dan trick menghadapi beragam kondisi perkuliahan
  2. Berkumpul dan saling bertukar cerita, dan ada acara makan-makannya doonnkk,..=D
  3. Yang pastinya......ini tanda bahwa seseorang berhasil menyelesaikan studinya
Sejak kedatangan saya ke New Zealand pada Juli tahun 2008, sudah beberapa orang mahasiswa/i Master dan PhD berhasil menyelesaikan perkuliahannya. Memang kami disini tidaklah seperti di kota-kota lain di New Zealand yang mahasiswa Indonesianya cukup banyak, kami tidaklah terlalu ramai sehingga hubungan pertemanan dan persaudaraan sangatlah kental.



Biasanya PPIC akan mencarikan tempat untuk program 'berbagi ilmu' ini, apakah itu di University of Canterbury atau di Lincoln University. Disini PPIC juga akan menyerahkan cenderamata yang menandakan juga kesuksesan si mahasiswa dalam menyelesaikan perkuliahannya.

Bagi mahasiswa PhD, program 'berbagi ilmu' ini bisa dilakukan sebelum atau sesudah Viva alias defense. Karena walaupun program risetnya sudah selesai, masih ada satu tahapan lagi sebelum resmi menyandang gelar Doktor, dan program itu adalah Viva.

Walaupun dikemas dalam suasana sederhana dan informal, namun program 'berbagi ilmu' ini sudah berlangsung lama dan menjadi tradisi bagi PPIC yang secara akademik menunjukkan eksistensi seorang mahasiswa dalam menuntut ilmu di Canterbury, New Zealand.

Sunday, May 8, 2011

Proud to be an Indonesian

Proud to be an Indonesian? Iya dong...

Walopun tinggal bertahun-tahun diberbagai belahan dunia, yang namanya dengan Indonesia,...hmmm..cinta mati deh. Indonesia dengan segala macam permasalahan tidak mampu mengikis kecintaan kami terhadap negeri ini. Biarpun menetap di luar negeri, merah putih tetap terpatri.

Makanya setiap ada kesempatan untuk menampilkan keindahan budaya nusantara, kami para pelajar dan masyarakat Indonesia sangat antusias untuk menyukseskannya. Di Christchurch sendiri, acara rutin yang diikuti oleh kami, orang Indonesia, adalah Culture Galore. Acara yang diadakan setiap tahunnya oleh City Council Christchurch bertujuan menampilkan keragaman budaya di Christchuch. Masing-masing negara akan menampilkan tarian dari negaranya disamping juga ada food stall yang menyajikan aneka hidangan khas negara masing-masing. Untuk Culture Galore 2011 ini, Indonesia menampilkan tari Saman dari Aceh. Dan seperti tahun sebelumya yang menampilkan tari Din Din Badindin dari Sumatra Barat, Indonesia tetap memperoleh applause meriah.


Sementara itu acara lain dimana budaya Indonesia ditampilkan adalah Lincoln University International Night. Acara ini tergolong unik karena para mahasiswa di wajibkan untuk memasak di dapur Lincoln University. Bahan-bahan juga disediakan oleh LUSA (Lincoln University Student Association) dan setiap negara akan mempersiapkan menu masakan sebanyak 200-300 porsi. Agustus 2010 lalu, PPIC menyajikan pisang goreng, es teler dan sate kuah kacang. Walaupun suasana Ramadhan dan sebagian dari mahasiswa melaksanakan ibadah puasa, tidak menyurutkan semangat untuk menyukseskan penampilan Indonesia.


Ternyata usaha bersama itu tidak sia-sia, makanan Indonesia langsung ludes. Beberapa orang pengunjung bahkan berusaha mencari makanan yang tersisa. Begitu juga dengan stand PPIC yang menampilkan keragaman batik, wayang kulit, aneka alat musik tradisional dan tentu saja para mahasiswa yang tampil apik dalam stelan kebaya serta baju batiknya. Yang semakin membuat pengunjung tertarik adalah tampilan tiga orang siswa Indonesia dalam balutan busana Bali. Dan akhirnya applause meriah diberikan pada saat penampilan tari Merak (Bali) oleh seorang siswa Indonesia.


Penampilan-penampilan apik Indonesia ini membuat grup tari Indonesia sering di undang ke acara-acara kultural lainnya, seperti Singapore Night, Philipina Night.

Walaupun jauh di mata,...Indonesia selalu tetap dihati kami! Hidup Indonesia!!!

Sunday, May 1, 2011

Fundraising

Setelah gempa berkekuatan 7.6 SR mengantam kota Padang dan Pariaman di Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009, PPIC mengambil inisiatif untuk menggalang dana yang akan disumbangkan untuk membantu korban gempa. Inisiatif ini disambut antusias oleh masyarakat Indonesia yang bermukim di Christchurch, bahkan teman-teman yang bermukim diluar daerah pun tidak segan mengulurkan tangannya membantu. Walaupun kami jauh di rantau orang, namun kami juga ingin memberikan sesuatu buat saudara-saudara kami yang membutuhkan pertolongan.


Koordinasi secara cepat di University of Canterbury dan dibukalah rekening bersama untuk menggalang dana. Dua acara penggalangan dana juga disepakati akan di laksanakan pada tanggal 7 Oktober 2009 di University of Canterbury dan tanggal 11 Oktober 2009 di Art Center, Christchurch. Fundraising yang pertama bertujuan untuk mengumpulkan dana dari kalangan akademik dengan menjual beragam makanan Indonesia dan juga men-display foto-foto gempa.


Sementara itu, penampilan tarian dan aneka ragam makanan Indonesia yang dijual di Art Center Christchurch mampu menyedot perhatian pengunjung di sekitar lokasi fundraising. Apalagi dengan pemutaran film dokumenter tentang gempa Padang-Pariaman memberikan informasi lebih lanjut mengenai situasi terakhir di Sumatera Barat. 


Dengan mengusung slogan 'A dollar from you means a lot for the victims', kami memperoleh cukup banyak sumbangan. Dana yang tergalang dalam dua hari itu adalah NZD 6,000 yang kemudian di distribusikan langsung ke Padang Pariaman melalui Pondok Kemanusian dan disalurkan langsung untuk pembangunan rumah di Padang Pariaman. Antusiasme para pengunjung untuk memberikan dolar mereka sungguh menyentuh hati kami. Bencana telah menguatkan tali kemanusiaan tanpa memandang latar belakang, agama, ras dan status sosial. Yang ada adalah rasa kemanusiaan untuk bersatu membantu korban yang memerlukan uluran tangan.

Thank you angels for dollars that you have donated for the victims. GBU!