Di Publish di Kompasiana on 6 June 2012
Seorang teman saya saat
kuliah di Lincoln University, New Zealand berlibur ke kampung halamannya
di Chiang Mai, Thailand. Tahun lalu, saya dan Amphun menikmati berbasah-basah di Sonkarn Festival
pada bulan April disaat puncak musim panas. Berbeda dari tahun lalu,
tahun ini Amphun mengajak reuni di Bangkok dan sebuah pulau di dekat
Pattaya bernama, Loh Karn.
Kami mencoba menghubungi teman-teman backpacking lainnya,
sayangnya hanya kami berdua yang bisa berangkat. Sementara itu, seorang
teman lainnya, Sawaros, yang merupakan dosen disalah satu universitas
di Bangkok hanya bisa menemani sepanjang akhir pekan. Jadilah kami berdua yang ber-backpaking ria pada trip kali ini.
"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang" (Nasehat Imam Syafe’i, dikutip dari Buku Negeri Lima Menara by Ahmad Fuadi)
Showing posts with label perjalanan. Show all posts
Showing posts with label perjalanan. Show all posts
Tuesday, June 5, 2012
Wednesday, January 4, 2012
Kisah dibalik pembangunan L'Oratoire Saint Joseph du Mont-Royal
Ditulis di Kompasiana, 25 Oktober 2011
Banyak hal yang mengurai dihati setiap saya melakukan perjalanan. Realita dan romantika kehidupan yang terpatri dan tersaji di berbagai tempat dibelahan dunia, menambah khasanah pengetahuan dan menjadi stimulus untuk tidak hentinya belajar. Bangunan-bangunan monumental memperlihatkan kejeniusan para pendahulu, yang dengan segala keterbatasannya berhasil menelurkan karya cipta yang luar biasa, seperti landmarknya kota Montreal, L’Oratoire Saint Joseph, du Mont-Royal, bangunan yang dibangun secara bersama-sama dan terinspirasi oleh seseorang yang bernama, Brother Andre.
Sunday, December 18, 2011
Ramadan di Kampuang,.....Lamaknyo
| Gulai Kepala Ikan (Source: Google) |
Pemenang Lomba Menulis Telkomsel Ramadhan Ceria 2011
Tak terasa sudah 4 tahun saya tidak menjalani ibadah Ramadhan di tanah air. Alhamdulillah tahun ini keinginan untuk bisa mengawali Ramadhan bersama orang tua di Padang tercapai juga.
Disamping kerinduan ber-Ramadhan dengan keluarga, tentu saja ada kerinduan lain, yaitu menikmati suasana kental bulan Ramadhan yang sejak 4 tahun terakhir tidak begitu terasa.
Maklum tinggal di negeri seberang dimana kaum muslim adalah minoritas, menjadikan semarak bulan suci umat Islam ini tidak terasa gaungnya. Bahkan dalam perayaan Idul Fitri-pun tidak begitu terasa semaraknya karena harus kembali lagi ke kampus. Tapi, walau dengan kondisi tersebut, keceriaan Ramadhan justru semakin kental, seiring dengan semakin meningkatnya rasa syukur dan persaudaraan yang terjalin diantara para perantau di sana.
Thursday, November 24, 2011
Mud dan Wood House: Bermalam bersama tokek
| Rumah kayu dengan parit kecil |
Ditulis di Kompasiana, 17 April 2011
Friday, November 4, 2011
'Unforgettable Moments' in Farewell Spit
Ditulis di Kompasiana, 11 Juli 2011
Setelah mengalami dua hari yang seru di Collingwood, pagi ini kami akan bertolak menuju Nelson. Namun sebelumnya trekking di Pupu Springs dan bermain di Farewell Spit adalah tujuan sebelum bermalam di Nelson. Pagi itu setelah sarapan, kami bersiap meninggalkan Sommerset House. Pemilik backpacker, Chris dan Yogi, mengantar kami ke parkiran sambil tak henti-hentinya mengulang-ulang rute yang harus kami tempuh dari Pupu Springs menuju Farewell Spit. Mereka juga memberikan beberapa advices di spot mana kami harus berhenti untuk menikmati keindahan Farewell Spit. Tepat pukul 7.30 (sesuai rencana), kamipun meninggalkan Sommerset House diiringi lambaian tangan Chris dan Yogi, dan tentu saja si kucing Persia, Sommerset, yang namanya diabadikan menjadi nama backpacker itu.
Thursday, November 3, 2011
........'karena Om cinta Indonesia'
Ditulis di Kompasiana, 09 Agustus 2011
Saya mengenal Om Andi saat saya masih menetap di Swedia, negara yang sudah ditinggalinya sejak akhir 1960an. Jika berbicara dengannya, kosa kata bahasa Indonesianya masih bagus dan masih terdengar logat Manadonya, namun jika didengar baik-baik maka kita tahu bahwa dia menggunakan kosa kata yang sudah lama. Misalnya ketika mengatakan bahwa beliau ingin memperpanjang rebewes, tentu saja kosa kata itu tidak saya temu dijaman saya, yang ternyata mempunyai arti SIM (Surat Izin Mengemudi). Jadi jangan coba-coba menggunakan bahasa gaul dengannya, dijamin dia akan terbengong-bengong.
Saya mengenal Om Andi saat saya masih menetap di Swedia, negara yang sudah ditinggalinya sejak akhir 1960an. Jika berbicara dengannya, kosa kata bahasa Indonesianya masih bagus dan masih terdengar logat Manadonya, namun jika didengar baik-baik maka kita tahu bahwa dia menggunakan kosa kata yang sudah lama. Misalnya ketika mengatakan bahwa beliau ingin memperpanjang rebewes, tentu saja kosa kata itu tidak saya temu dijaman saya, yang ternyata mempunyai arti SIM (Surat Izin Mengemudi). Jadi jangan coba-coba menggunakan bahasa gaul dengannya, dijamin dia akan terbengong-bengong.
Sejak perkenalan itu saya menjadi akrab dengannya, layaknya seperti ayah saya sendiri. Apalagi kedua orangtua saya juga sudah berkenalan dengannya. Sehingga ketika ia memutuskan perjalanan bersepeda melintas Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, kontan kami semua kaget dan sangsi, maklum Om Andi sudah tidak muda (68 tahun saat itu) lagi. Serta jalur yang akan ditempuhnya bukanlah rute sederhana. Apalagi ditunjang dengan terbatasnya jalur bersepeda disepanjang jalan yang akan ditempuhnya dan bahkan jalur lintas Sumatera yang akan ditempuh merupakan jalurnya bus-bus lintas kota dan provinsi. Tapi, memang Om Andi bersikeras untuk menjalankan misinya.
Terjebak di Collingwood
| Banjir yang memutus akses ke-dari Collingwood |
Gili Sulat dan Gili Lawang: Keindahan yang tersembunyi
Ditulis di Kompasiana, 18 April 2011
Dipublish oleh Kompas Travel, 28 April 2011
Siapa yang tidak kenal dengan Gili Islands, terutama Gili Trawangan? Ketiga pulau (Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan) sangat terkenal baik bagi wisatawan lokal ataupun asing. Non-motorised system yang diberlakukan di Gili Trawangan menjadikan pulau ini semakin menarik untuk dikunjungi. Dan bagi penggemar scuba diving dan snorkeling, surga bawah air disekeliling pulau ini merupakan daya tarik tersendiri.
Dipublish oleh Kompas Travel, 28 April 2011
Siapa yang tidak kenal dengan Gili Islands, terutama Gili Trawangan? Ketiga pulau (Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan) sangat terkenal baik bagi wisatawan lokal ataupun asing. Non-motorised system yang diberlakukan di Gili Trawangan menjadikan pulau ini semakin menarik untuk dikunjungi. Dan bagi penggemar scuba diving dan snorkeling, surga bawah air disekeliling pulau ini merupakan daya tarik tersendiri.
| Pemandangan dermaga di Gili Sulat |
Kali ini saya akan berbagi cerita mengenai wisata bahari di pulau Lombok, tapi bukan di Lombok Barat melainkan diujung lain pulau ini yaitu Lombok Timur. Backpacking kami kali ini adalah di dua pulau kecil (gili) Sulat dan Lawang yang terletak di kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Berbeda dengan ketiga gili di Lombok Barat, kedua gili ini seolah belum tersentuh oleh komersialisasi dan kehebohan para pengunjung. Justru keindahan yang masih tersembunyi ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi kami.
Subscribe to:
Posts (Atom)