Showing posts with label riset. Show all posts
Showing posts with label riset. Show all posts

Wednesday, August 22, 2012

Keselamatan Penerbangan dari Perspektif Complex Socio-Technical System

Dipublish di Ilmu Terbang pada tanggal 9 Agustus 2012

Kecelakaan Pesawat Ulang Alik Challenger (source: Google)
Banyak sekali tragedi complex socio-technical system dalam catatan sejarah perkembangan teknologi dunia. Beberapa contoh dari tragedi ini adalah meledaknya pesawat luar angkasa Challenger, 28 Januari 1986, yang kemudian diikuti dengan meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl pada 26 April 1986. Dan beberapa waktu lalu adalah tragedi bocornya pembangkit Fukushima sebagai dampak tsunami Jepang, 11 Maret 2011. 

Monday, July 4, 2011

Best Time

Saya masih ingat pertama kali meeting dengan pembimbing saya saat menempuh pendidikan Doktoral saya, Clive menanyakan satu hal yaitu, "When is the best time for you to work? I mean, to read, write and think?". Saya katakan, "I work better in the morning, but I work best after dinner". Dan diapun menjawab, "So, do you works in your best time".

Nah, kenapa tahu waktu terbaik kita itu penting dalam mengerjakan riset? Karena tuntutan dari banyaknya tasks yang harus dikerjakan disamping mengerjakan hal yang sama untuk waktu yang lama (baca: tahunan) tentu saja butuh waktu dimana kita bisa menampilkan performa terbaik. Saya sendiri memang menyukai kerja malam dan pagi hari, karena siang hari dan sore sudah banyak distractions.

Peak Productivity (Source: Jorge Cham)

Advices dari Clive sendiri memang ada benarnya, apalagi ketika saya harus melakukan coding atas data-data saya yang berjibun jumlahnya. Kalau kondisi sedang tidak prima, maka kesalahan akan sangat mudah terjadi dan tentu saja akan mempengaruhi hasil.

Mengetahui kapan waktu terbaik untuk bekerja juga memberikan kemudahan untuk mengatur waktu alias time management. Saya sendiri termasuk seorang mahasiswa yang fokus namun sangat suka bermain. Jadi balancing antara kerjaan dan bermain adalah penting bagi saya, apalagi saya penyuka jalan-jalan dan juga olahraga.

Setiap hari saya akan meluangkan beberapa jam untuk mengayunkan baik itu raket badminton ataupun squash. Belum lagi mengikuti kelas-kelasnya Les Mills. Saya suka ke bioskop, dan Selasa malam adalah waktu saya untuk nonton dibioskop karena harga tiket yang hanya $10. Dan yang lainnya lagi adalah saya termasuk orang yang menyukai supper, jadi dengan beberapa teman biasanya kita mencari supper jam 11 atau 12 malam.

Akses kantor 24 jam sangat memudahkan bagi kami mengatur jadwal kerja. Kami yang berkantor dibelakang bangunan rata-rata adalah 'makhluk malam' yang akan memenuhi gedung kantor mulai pukul 7 malam dan saya biasanya bekerja sampai jam 2-3 malam, sebagian teman ada yang bekerja hingga jam 4-5 pagi dan ada juga yang pulang pada saat teman-teman didepan gedung mulai bekerja jam 8 pagi.

Sleep (source: Jorge Cham)

Saya termasuk orang yang tidak tidur lama, namun butuh tidur disela-sela hari. Jadi jangan heran kalau melihat saya bisa tidur dikursi saya. Tidur siang setidaknya 30 menit, maka saya sudah akan segar kembali dan siap beraktifitas. Disamping itu selingan melaksanakan sholat adalah break yang sangat baik untuk otak dan mengembalikan kesegaran bukan saja otak namun tubuh.

Setiap orang mempunyai waktu kerja yang berbeda, dan mengetahui waktu kerja terbaik akan memberikan hasil yang baik pula karena saya yakin bahwa kualitas waktu lebih baik daripada kuantitas waktu.

Tuesday, June 7, 2011

Coffee Break

Tiada hari tanpa kopi. Kalo ada hari tanpa kopi berarti stock di kantor lagi habis dan gak ada cadangan di drawer plus mau beli ke toko pada tutup karena lagi ANZAC day. So, kalo gak minum kopi bisa diibaratkan lagi apes.



Walo saya termasuk addict to kopi, ada juga beberapa teman yang tidak minum kopi dan memilih teh, tapi ada juga yang tidak minum kedua-duanya. Kalau di kantor biasanya disediakan kebutuhan dairy product ini, mulai dari susu, kopi, teh dan juga gula. Begitu dateng ke kantor, setelah ngidupin komputer maka dilanjutkan dengan membawa cangkir ke dapur.

Soal perlengkapan makan ini, hampir setiap mahasiswa memiliki seperangkat perlengkapan makan, mulai dari piring atau mangkok, cangkir, sendok dan garpu dan juga thermoflash. Maklumlah, kantor sudah merupakan rumah kedua (upppsss....bagi saya malahan rumah pertama,..hehehe), jadi kalau di cek drawer dan locker masing-masing, akan ditemukan timbunan makanan....=D

Didapur sendiri, pada jam 9-10 pagi, akan ada beberapa orang mahasiswa lainnya yang sedang ngerumpi sambil menyeruput teh atau kopi. Biasanya diiringi dengan cerita ngalor-ngidul entah kemana dan bukanlah hal yang aneh jika akan berakhir kembali ke curhat tentang riset, baik tentang data, writing, analisis dan yang paling sering adalah tentang pembimbing...hehehe

Acara coffee break ini akan ada setidaknya 3 kali sehari, pagi jam 9-10, siang jam 3-4 dan malam jam 8-9, yang merupakan saat bagi kami untuk melepaskan diri sejenak dari riset, berbagi keluhan dengan teman sejawat atau hanya sekedar iseng berhaha-hihi.

Sunday, February 6, 2011

A Ph.D (Permanent Head Damage) Student....Final Chapter

12972883891737973974
Thesis submission
 Ditulis di Kompasiana, 10 Februari 2010
Setelah melewati tahapan-tahapan dari proposal, data analisis dan writing,…akhirnya seorang PhD student sampai juga ke tahap akhir, yaitu thesis submission. Nah, berbeda dengan stage-stage sebelumnya, kali ini ada beberapa symptom yang muncul menjelang ‘ketok palu’ untuk submission. Pssstt…ini berdasarkan observasi dan wawancara, yang kemudian di interpretasikan berdasarkan pengalaman pribadi. Walaupun memakai metode yang tidak jelas dan tidak bisa dijadikan acuan secara akademik, tapi setidaknya bisa mewakili kondisi (ngawur) yang dialami seorang PhD student disaat-saat menjelang submission.
1.       Diare alias Diarrhea
Ini diakibatkan mengkonsumsi kopi secara berlebihan dan menganjal perut hanya dengan mi atau apa saja yang bisa dimakan. Biasanya gejala ini juga dibarengi dengan mood yang berubah-rubah layaknya cuaca. Kadang cerah ceria, namun bisa saja secara tiba-tiba mendung dengan awan gelap dibarengi petir. Yang parahnya jika dibarengi dengan hujan (air mata) yang bisa mengakibatkan banjir diatas kertas-kertas kerjaan. Dalam situasi seperti ini, sangat disarankan bagi orang-orang yang berada disekitar untuk tidak menanyakan segala sesuatu yang berkaitan dengan submission, seperti ,”Kapan jadinya submit?” atau “udah submit ya?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa berdampak langsung pada perut. Biasanya akan terasa mules-mules dan pengen ke toilet.
 
2.       Dehidrasi
Nah, yang satu ini lain lagi. Dehidrasi disebabkan karena terlalu banyak menguras air mata. Perasaan mellow dan super duper sensitif biasanya lebih banyak hadir. Apalagi kalo semua pada nanyain kapan mau submit, aduh, mata langsung berkaca-kaca deh. Bukannya kenapa-kenapa, tapi itu adalah pertanyaan yang sangat sensitif karena tidak tahu kapan tepatnya tanggal submission. Apalagi kalo dibarengi dengan beasiswa sudah mau habis, visa tinggal 1 bulan dan tabungan sudah menipis, wah dijamin deh pertanyaan ini bakal menguras air mata.

1297288471851418761
It's time to submit

Friday, February 4, 2011

A Ph.D (Permanent Head Damage) Student....continued

Ditulis di Kompasiana, 14 September 2010

Akibat note “A Ph.D (Permanent Head Damage) Student” kemaren muncul tanggapan dan pertanyaan dari beberapa orang teman. Mohon jawaban dibawah jangan dijadikan referensi ya, secara jawabannya juga ngawur ndak jelas, tergantung mood…^_^…Dan juga tidak didukung oleh data valid, karena tidak ada pembuktian secara empirik,…hehehe

Tanya: Pas ngerjain S1 kemaren saya juga suka begadang, kelapangan berhari-hari dan juga mengalami diburu-buru pembimbing. Kira-kira gak ada bedanya kan sama ngambil Ph.D?

Jawab: Ada dunk bedanya. Kalo pas S1 kemaren begadang dan kelapangan berhari-hari kan rame-rame sama teman-teman sekelas. Kalo pas ngambil Ph.D semuanya dilakukan sendiri karena tidak ada teman diskusi, secara penelitian Ph.D berbeda tiap orangnya (kalo ada yang sama,….weeiittss dijamin ndak lulus..:-D). Paling yang akan sama mungkin metode secara garis besar namun spesifiknya yang tahu ya hanya si student Ph.Dnya.

Makanya ngumpulin data ke lapangan, bisa makan waktu berbulan-bulan secara dikerjakan sendiri. Kadang udah berbulan-bulan, data juga gak diperoleh. Kebayangkan gimana frustasinya. Dalam hal ini pembimbingpun tidak bisa membantu banyak.

Jadi biasanya kalo pas tamat S1 dan S2 itu, masih dengan semangat menggebu-gebu untuk mengubah dunia, tapi sejalan dengan waktu,….ambisi-ambisi yang ada mulai surut, lah iya lah,..kapan tamat aja ndak jelas,…^_o

Tuesday, February 1, 2011

A Ph.D (Permanent Head Damage) Student

Ditulis di Kompasiana, 11 September 2010

Pada waktu lulus S1, dapat gelar B.Eng ngerasa pengen nyambung lagi, secara ada yang mo nyekolahin dan juga pengen nantinya nggak ngerasa ‘Become an Employee is Not Good’’ (weitsss….gaya euy). Jadinya ngelanjutin ke jenjang S2 dan dapet gelar M.Sc. Katanya sih M.Sc ini punya kepanjangan ‘May be Smart or Crazy’. Nah Lho! Trus gimana, ya udah dilanjutin ke S3 alias Ph.D,….dan taunya Ph.D itu punya artian ‘Permanent Head Damage’.

Olok-olok sesama teman kuliah dibilang bahwa yang terjun ke jalur professional selepas S2 lebih ‘smart’ daripada yang memutuskan meneruskan ke jenjang S3 yang dikategorikan ‘crazy’. Katanya sih, ya iyalah ‘crazy’ gimana enggak, lha ‘permanent head damage’ kok dikejar,..ha..ha.

Beginilah kelakar diantara kami para pelajar Ph.D yang sedang menuntut ilmu di negeri seberang. Ada beberapa hal yang tabu dibicarakan di ruang publik alias pas kumpul-kumpul. Misalnya menanyakan kemajuan riset atau kapan mau submit thesisnya, waduh itu sama aja kaya menanyakan apa warna celana dalammu…^_^. Masih mending nanyain berat badan ato umur, itu mah nggak sesensitif pertanyaan diatas,..hehehe