.jpg)
Satu tahun terakhir ini saya belajar memahami kearifan budaya lokal, khususnya Sumatera Barat. Banyak sekali aspek-aspek menarik yang terkubur atau diinterpretasikan secara dangkal, baik itu aspek historis, religi, budaya hingga sosio-politik di Minang Kabau. Perkembangan zaman juga menjadikan rendahnya apresiasi dan keinginan generasi beberapa dekade belakangan ini untuk mempelajari kearifan budayanya sendiri.
Ketertarikan ini membawa saya berjumpa dengan banyak sekali teman-teman, kerabat serta orang-orang yang juga merupakan tempat saya belajar. Dan juga membawa saya menemui realita tergerusnya banyak pengetahuan yang diturunkan dari generasi lampau. Misalnya saja, di daerah Canduang, Agam yang berada dibawah kaki gunung Marapi. Daerah tersebut merupakan pusat budaya dan religi dahulunya. Saat ini, hanya dapat ditemui seorang
tuo ukia (ahli ukir) dan seorang
tuo pengkaji kitab kuning. Dan perbincangan saya dengan beliau membuat saya memahami belum adanya regenerasi, dan beberapa penyebabnya adalah faktor ekonomi dan perkembangan zaman. Sementara itu, berdasarkan beberapa dokumen yang saya baca dan diskusi dengan para pelaku budaya, saya mengetahui bahwa Canduang adalah tempat dibuatnya tenun songket pertama. Mirisnya, kondisi saat ini disana untuk tenun songket sedang mati suri karena ketiadaan regenerasi.